Obat Tradisional Dapat di Kemas Menjadi Obat Modern Agar tidak Punah Kegunaanya

22
Seminar kajian koleksi pengobatan tradisional dilakukan Museum Negeri Sumatera Selatan (ocha)

Tabloidmantap.com|Palembang- Museum Negeri Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar seminar hasil kajian koleksi “ Pengobatan Tradisional Sumsel, di Gedung Auditorium Museum Negeri Sumsel Palembang,kamis (17/9/2020).

Acara di buka oleh Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Sumsel Aufa Syahrizal Sarkomi didampingi Kepala UPTD Museum Negeri Sumatera Selatan H Chandra Amprayadi SH. Yang di hadiri para undangan dari berbagai elemen masyarakat baik dari komunitas, akademisi, budayawan dan masyarakat umum.

Dr Wahyu Rizki Andhifani dari Balai Arkeologi Sumsel, budayawan Sumsel, Drs Yudhy Syarofie dan Diajeng Kartika Sari SH (praktisi)

Dr Wahyu Rizki Andhifani dari Balai Arkeologi Sumsel menjelaskan kalau dalam prasasti –prasasti peninggalan Sriwijaya tidak ditemukan masalah pengobatan tradisional .

“Terbersit aja mungkin di Prasasti Talang Tuo, kayak ada kata-kata enau, sagu dan segala macam, larinya kesitu nanti, apakah dipakai untuk dimakan atau dijadikan untuk obat-obatan,” katanya.

Namun kalau di daerah uluan di Sumsel menurutnya malah banyak masyarakat mempraktekkan pengobatan tradisional ini.
“kalau dikatakannya orang di uluan sehat-sehat semua , saya enggak tahu karena perlu kajian tentang obat,” katanya.

Baca Juga  Aliansi Suara Warga Bandung Beri Solusi Penertiban Reklame di Kota Bandung

Budayawan Sumsel, Drs Yudhy Syarofie menilai kalau pengobatan tradisional adalah kearipan lokal Sumsel yang mulai terkikis, orang lebih banyak menggunakan obat moderen berbahan kimia daripada menggunakan obat tradisional.

“Tapi seperti dukun urut masih lho, seperti yang patah kaki, itu urutnya dari jauh , itu manjur , sekarang sudah susah cari orangnya, keahlian khusus seperti itu khan tidak diturunkan ,” katanya.

Menurut mantan wartawan Sripo ini sebenarnya obat-obat tradisional ini bisa di hidupkan lagi dengan melakukan pengemasan secara moderen dan alami.

“Dulu orang makan mengkudu , minta ampun rasanya, sekarang sudah ada dalam bentuk kapsul, “ katanya.

Untuk itu menurutnya peran masyarakat sangat penting untuk menghidupkan kembali pengobatan dan obat-obat tradisional agar bisa di olah secara moderen dan alami.

“Jika anak pilek waktu masih bayi , dulu dikasih getah gambir, itu berawal dari keluarga, karena entah teruji atau tidak , kita yang biasa mengkomsumsi obat-obat farmasi kebal makan obat herbal, ketika kita bicara herbal untuk pencegahan dan perawatan bukan untuk pengobatan, untuk hal yang banyak ya, tapi kalau hal-hal tertentu masih pakai ,” katanya.

Baca Juga  Peresmian Alun-alun Sangkala Buana Keraton Kasepuhan diwarnai Protes Sultan Aloeda II

Diajeng Kartika Sari SH menilai sehat bukan dari manusia saja tapi juga dari alam semesta.” Manusia itu diolah jiwa kita, pikiran kita , tubuh kita, kalau kita tidak sehat, enggak nyaman, kita harus lihat dulu apakah salah makan, apakah lingkungan yang kotor,”pungkasnya

(Ocha)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

four − one =