Fenomena Taman Villa Meruya: Preseden Buruk Ala Anies Baswedan, Apakah Ada Agenda Politik Di Belakangnya?

9

Oleh: Andre Vincent Wenas

TM Jakarta – Kita benar-benar tidak habis mengerti, apa sih yang ada di benak Anies Baswedan? Belum selesai perkara interpelasi terkait perhelatan Formula-E, menyusul bertubi-tubinya kasus yang tidak jelas soal kelebihan bayar, yang akhirnya bermetamorfosa menjadi kasus pemborosan anggaran.
Kali ini Anies sendiri nekad menabrak aturan RTH (ruang terbuka hijau) dengan memberi persetujuan untuk disewakan kepada sekelompok orang di bilangan Taman Villa Meruya. Untuk apa? Untuk dibikin rumah ibadah. Rumah ibadah di atas RTH??? Yah begitulah!
Padahal pihak pengembang di sana sudah menyediakan lahan khusus untuk dibangun rumah ibadah. Lalu kenapa mesti ngotot membangunnya di ruang terbuka hijau itu? Ini juga yang kita tidak habis pikir.
Kedua pihak (pihak yang ngotot bangun rumah ibadah di RTH dan pihak Pemprov DKI Jakarta cq Anies Baswedan yang menyetujuinya) nampaknya sama-sama keras kepala dan keras hati.
Apa sih yang mau ditunjukkan ke publik dengan ngotot alias keras kepala dan keras hatinya mereka itu?
Dikabarkan bahwa Anies Baswedan sampai tega-teganya datang ke sana untuk ‘show-of-force’ dengan ia sendiri yang melakukan peletakan batu pertama pembangunan rumah ibadah di atas RTH itu.
Kotradiksi yang sebetulnya sungguh amatlah sangat menjijikkan. Bukankah sebuah rumah ibadah seyogianya dibangun di atas sebuah niat yang benar dan hati yang baik? Serta dilaksanakan lewat cara yang benar dan itikad yang baik pula? Bukan dengan cara kotor, licik dan semena-mena!
Di sinilah kita dipertontonkan dengan suatu kejanggalan yang benar-benar tidak bisa dicerna akal sehat maupun diresapi oleh hati nurani yang bersih. Kewarasan publik seperti diperkosa ramai-ramai oleh mereka yang petantang-petenteng di acara peletakan batu pertama itu.
Apakah ada agenda sosial-politik tertentu di benak Anies? Sehingga ia mesti menyampaikan pesan “peletakan batu pertama” oleh dirinya sendiri itu langsung kepada seluruh khalayak?
Atau ada pesan khusus kepada pemerintah pusat bahwa ia tak bisa diatur misalnya? Atau memang ada “kekuatan lain” yang “menyuruh” Anies berbuat seperti itu?
Spekulasi publik pun terbuka lebar dan jadi rada liar memang.
Sementara itu, kita bisa berempati kepada para warga di Taman Villa Meruya. Mereka telah mencoba sekuatnya untuk unjuk rasa dan berupaya semaksimal mungkin menyampaikan pesan mereka, lewat berbagai cara.
Pesan bahwa mereka sama sekali tidak menolak pembangunan rumah ibadah! Mereka hanya mengingatkan agar pembangunan rumah ibadah itu dilakukan di tempat yang sudah disediakan oleh pengembang sesuai dengan master-plan. Taatlah pada hukum dan aturan. Itu saja.
Tapi kengototan (keras kepala dan keras hati) Anies dan panitia pembangunan yang tega menabrak aturan RTH yang dibuatnya sendiri telah menimbulkan sebuah tanda tanya besar.
Ada agenda apa sih di balik ini semua?
Preseden buruk telah dicontohkan sendiri oleh seorang kepala daerah. Sepertinya ia mau bilang, silahkan saja tabrak itu RTH dengan minta ijin sewa pakai ke Pemprov DKI di bawah pimpinan Anies Baswedan.
Sebegitu rendahnyakah kualitas moral-politik Pemprov DKI Jakarta dan sebegitu buta-hatinyakah para Panitia Pembangunannya. Ada apa di DKI Jakarta sekarang ini?
Apakah fenomena yang terjadi di Kawasan Taman Villa Meruya ini merupakan ‘intro’ dari sebuah gerakan politik besar yang bakal menyusul nantinya? Walahuallam.
Lalu, melihat ini semua, apakah ada rencana dari otoritas hukum dan keadilan untuk tetap setia dalam menegakkan hukum dan keadilan?
Supaya preseden buruk yang dilakukan Anies Baswedan ini tidak bermetastase seperti kanker ganas yang masuk ke stadium gawat darurat. (red)

Baca Juga  Demi Keadilan, Regulasi Insentif Nakes Covid-19 Harus Longgar, Transparan, Efektif & Akuntabel

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

five × 4 =