Sidang PETI, Saksi Ungkap 6,5 juta Untuk Desa Dan 15 juta Untuk Keamanan, Perbulan

7163
Badong menjelaskan, adanya income dalam kegiatan PETI tersebut memang sudah dikondisikan dan dibentuk oleh desa dan ada timnya. Namun dirinya tidak tahu kemana income yang dikumpulkan tersebut.
“Maka dari itu kita mau dalam perkara ini, pihak desa juga harus dipanggil. Begitu juga tim yang sudah dibentuk tersebut. Soalnya masuknya eksavator ke lokasi PETI itu sudah ada izin dari desa,” jelasnya.
Badong pun menganggap, dalam perkara eksavator milik ayahnya ini hanya dijadikan tumbal. Pasalnya, dari sekian banyak alat yang bekerja saat adanya razia, kenapa hanya alat milik ayahnya saja yang di police line dan diamankan.
Kami ini kan bukan pelaku PETI, kami memberikan sewa alat kepada orang yang ingin menggali lobang,” tuturnya.
Badong berharap dalam persidangan ini ada keadilan untuk dirinya dan orangtuanya. Kemudian dari Aparat Penegak Hukum (APH) memberikan fakta hukum yang sebenarnya.
“Kami ini bukan pelaku PETI, kami hanya penyedia jasa,” tegasnya.
Selain itu, kata Badong, di Desa Beringin Jaya Kecamatan Bunut Hulu tersebut hampir seluruhnya ada kegiatan PETI.
“Setahu kami terdapat 23 unit eksavator yang beroperasi di lokasi pertambangan Beringin Jaya,” jelas Badong.
Senada disampaikan Ikbaludin, yang juga saksi perkara Sunarto, bahwa banyak keterangan yang disampaikan di pengadilan tidak sesuai BAP.
“Misalnya yang bekerja di lokasi razia saat itu bukan hanya alat kami. Namun banyak ada lima eksavator,” ucapnya.
Ikbaludin juga membenarkan bahwa pihaknya hanya sebagai penyedia jasa, bukan pemilik lobang yang digali tersebut.
“Pemilik lobang yang digali menggunakan eksavator kami itu Mawardi. Dan itu sudah kami sampaikan ke polisi,” sebut Ikbaludin.

Baca Juga  Ops Yustisi Gabungan Polsek Kepulauan Seribu Selatan Jaring 5 Pelanggar di Pulau Untung Jawa

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

nineteen − eighteen =