Hero Akbar: Statetmen DP Terkait Media ๐˜ˆ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ-๐˜ข๐˜ฃ๐˜ข๐˜ญ Memicu Spekulasi Terjadinya ๐˜‹๐˜ฆ๐˜ท๐˜ช๐˜ฅ๐˜ฆ ๐˜ฆ๐˜ต ๐˜๐˜ฎ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ข PERS?

43
Gambar Ilustrasi, Kutipan berita dari Tabloid Mantap (Edisi Cetak) yang terbit pada Tahun 1999. (Foto/TM)
TM Jakarta – Menanggapi rilis dari Ketua Dewan Pers (DP) Azyumardi Azra dalam kegiatan seminar di Hall Dewan Pers Jakarta, Jumat (3/6/2022), salah satu Wartawan Senior, Hero Akbar menanggapi sebuah pernyataan yang patut diduga dapat menimbulkan perpecahan terhadap sesama Insan Media (PERS).
Hal itu terkait dugaan upaya memecah belah atau ‘Devide at Impera’ pers kita dengan menyatakan, terdapat Media Abal-abal dari Total 43Ribu Media yang beredar.
“Medianya abal-abal, penulisnya abal-abal, terkadang isinya juga abal-abal. Ini yang membuat repot banyak pihak,โ€ ungkap Azyumardi Azra, yang dikutip dari berbagai media online yang tayang Sabtu (4/6/2022).
Cuplikan dan adanya pernyataan dari Pucuk Pimpinan DP tersebut tentu harus dijabarkan dengan sejelas- jelasnya, agar tidak liar dan menjadi tabu untuk kedepannya.
“Terkait berita ini, mungkin non anggota Dewan Pers perlu penjelasan Pak Azra atau pakar Dewan Pers lainnya yang lebih paham akan penjabaran,” kata Moses.
Ketua Dewan Pers harus menjelaskan apa pengertian Abal-abal, secara definisi, deskripsi dan analisa secara linguistik dan ciri-cirinya, menurut konstruksi berfikir nya sesuai dengan intelektualnya yang telah dimandatkan kepadanya untuk menjadi Ketua Dewan Pers Periode Tahun 20220-2025.
“Mengapa justru Dewan Pers yang membuat narasi yang diskriminasitif dengan mengatakan “Abal-abal” terhadap media yang bukan konstituennya? Apakah Dewan Pers itu menganggap dunia Pers itu hanya miliknya dan yang lain itu โ€˜ngontrakโ€?,” geramnya.
Moses sapaan akrabnya menyebut, media sosial apakah juga dalam pemahaman Ketua DP dapat dikatakan Abal-abal. Sedangkan realitanya, tidak sedikit media Mainstream mendapat referensi berita hingga narasumber melalui media itu.
“Ingat, media sosial juga adalah salah satu sumber rujukan bagi media mainstream, media yang bernaung dalam konstituennya. Media sosial, baik itu sebagai sumber atau sebagai media distribusi konten tidak boleh dianggap abal- abal. Jangan mau menang sendiri. Giliran berita bagus, ambil milik dari netizen/ pewarta warga, giliran pewarta warga salah sedkit terus โ€˜dihakimiโ€™ dan dikriminalisasi bahwa itu melanggar UU ITE-lah, itu tidak sesuai Kode Etik Jurnalistik-lah. Apakah yakin kalau media dibawah Dewan Pers sudah bermain bersih?,” terangnya.
Pemimpin Redaksi (Pemred) KupasMerdeka.com itu juga mempertanyakan, mengapa media yang belum atau tidak bergabung dengan Dewan Pers langsung dicap dengan media abal-abal?

Baca Juga  Ditengah Gempuran Informasi Digital, Perpustakaan Desa Srandil Ponorogo Tetap Eksis
Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

three × 5 =