Tuesday, June 18, 2024
spot_img
HomeEdukasiDirektur Eksekutif Strategi Foundation: UMKM Harus Memiliki Inovasi Agar Berdaya Saing

Direktur Eksekutif Strategi Foundation: UMKM Harus Memiliki Inovasi Agar Berdaya Saing

TM Jakarta – Dewasa ini, Usaha Mikro Kecil Menengah [UMKM] terus menggeliat. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah memegang peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sebab, kelompok UMKM ini memiliki jumlah yang paling banyak dibanding unit usaha lain.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal, UMKM memiliki kontribusi terhadap PDB yaitu sebesar 61,97% dari total PDB nasional atau setara dengan Rp8.500 triliun pada tahun 2020.

Direktur Eksekutif Strategi Foundation, Risdiana Wiryatni mengatakan, keberadaan UMKM mampu menyerap 97% tenaga kerja. Begitu vitalnya peran UMKM menjadikan pemerintah di berbagai daerah selalu berusaha mewadahi dan memberikan dukungan atas kemajuan UMKM.

“Kita ketahui bersama bahwa UMKM ini merupakan soko guru perekonomian nasional, dan sudah terbukti mampu bertahan di tengah goncangan krisis. UMKM harus terus ditumbuh kembangkan, harus terus kita dorong dan kita perkuat,” kata Risdiana melalui keterangan di Jakarta, Jumat 31 Maret 2023.

Risdiana menyebut, sebagai penggerak roda perekonomian, UMKM merupakan unit usaha yang sangat beragam. Mulai dari penjual keliling hingga home industry.

“Momentum geliat UMKM ini tentunya perlu terus dijaga sehingga keberadaan sektor ini terus memberikan kontribusi bagi upaya pengentasan kemiskinan dan terbentuknya kemandirian ekonomi. Meskipun ancaman resesi global tidak diprediksikan terlalu masif, akan tetapi memperkuat daya tahan UMKM tetap penting dilakukan mengingat sebagian besar masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya di sektor ini,” ujarnya.

“Oleh karena itu, ada beberapa persoalan yang harus dibenahi oleh pemerintah dalam mendorong UMKM ini lebih mandiri dari sisi produksi, pemasaran, akses teknologi, keuangan dan ekosistem pengembangan UMKM. Persoalan-persoalan klasik di sektor UMKM tetap menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah karena selama ini kebijakan yang dilakukan tidak pernah dilakukan secara komprehensif,” tuturnya.

Pemimpin Perusahaan Kinerjaekselen ini menambahkan, dari aspek produksi, pengembangan sektor UMKM harus berorientasi kepada market driven sehingga produk UMKM bisa dapat terserap ke pasar.

“Banyak pelaku UMKM mampu membuat produk akan tetapi tidak dapat dijual ke pasar. Seharusnya ada pergeseran paradigma pembangunan UMKM dari sekedar hanya subsisten menuju UMKM yang naik kelas. Lalu, inovasi-inovasi produk harus dikembangkan mengikuti perkembangan pasar sehingga daya saing produk UMKM tetap dapat terus dijaga. Sepeti kata Pak Mario, produk UMKM harus laku dijual dan diterima pasar, orang tertarik untuk membeli, membeli lagi dan terus membeli,” ungkapnya.

Sementara dari aspek pemasaran, ungkap Risdiana, strategi dan inovasi pengembangan pemasaran perlu terus dikembangkan. Digitalisasi pemasaran yang sangat berkembang di era pandemi covid perlu lebih dioptimalkan karena banyak model market place, e-commerce yang berbasis komunitas akhirnya mati suri karena tidak ada perhatian dari pemerintah.

“Seyogianya model-model belanja online ini sebenarnya dapat diarahkan ke model belanja yang dikelola secara kolektif sehingga akan mendatangkan kesejahteraan bersama. Oleh karena itu, literasi digital untuk pelaku UMKM juga harus digencarkan. Namun, di luar pemanfaatan teknologi digital ini, penguatan jejaring pemasaran, peningkatan standarisasi dan sertifikasi produk perlu terus dikembangkan. Konsep sharing economy dengan mendorong keterkaitan antara sektor tradisional dan sektor modern menjadi strategi yang sangat diperlukan agar sektor pasar tradisional dan sektor modern tidak terus dikontradiktifkan,” kata Risdiana memaparkan.

Masih menurut Risdiana, berbagai upaya ini sebenarnya bisa dilakukan dengan penerapan kebijakan pemberian tempat penjualan untuk produk UMKM pada tiap pusat perbelanjaan modern. Strategi inilah yang harus dilakukan agar sektor tradisional dan sektor modern dapat berkembang secara beriringan.

Sementara dalam peningkatan akses teknologi bagi pelaku UMKM dapat dilakukan dengan memperkuat peran lembaga-lembaga inkubator bisnis baik yang dimiliki oleh pemerintah maupun perguruan tinggi, maupun lembaga lain seperti Komunitas UMKM Naik Kelas, yang selama ini terus berkomitmen memberi edukasi kepada para pelaku UMKM di tanah air.

“Melalui peran dari lembaga-lembaga tersebut, saya yakin fungsi-fungsi pemberdayaan UMKM akan berjalan dengan baik,” tuturnya.

Berkaitan dengan aspek permodalan, ucap Risdiana, diperlukan lembaga keuangan yang mampu memberikan jaminan akses permodalan yang baik bagi masyarakat. Pemerintah harus mendorong lembaga perbankan agar mampu memberikan kemudahaan akses bagi pelaku UMKM dan mampu menjalankan fungsi intermediasi bagi mereka.

Selain itu, kata dia, di luar lembaga keuangan perbankan, lembaga-lembaga keuangan mikro perlu dioptimalkan perannya sehingga benar-benar mampu menjangkau masyarakat dan pelaku UMKM yang paling miskin. Karenanya keberadaan koperasi, Badan Usaha Milik Desa perlu lebih diberdayakan untuk membantu hal ini.

Risdiana menambahkan, tak kalah penting, hal penting yang harus dilakukan adalah bagaimana mendorong ekosistem pengembangan UMKM yang lebih baik. Selama ini pola-pola pengembangan UMKM yang dilakukan masih parsial dan integrasi di antara stakeholders masih lemah. Implikasinya banyak kebijakan-kebijakan yang seringkali tidak konsisten dan tumpang tindih.

“Jika ini tidak dibenahi, sampai kapan pun perkembangan UMKM hanya akan berjalan statis dan tidak akan segera naik kelas. Oleh karena itu, perlu ada sinkronisasi kebijakan UMKM baik di level atas maupun di level daerah misalnya dengan mengembangkan peta jalan pengembangan UMKM. Dukungan ekosistem pengembangan UMKM harus terus didorong dengan memperkuat dukungan kebijakan dan regulasi, infrastruktur dan jejaring kemitraan,” ungkapnya.

“Strategi tersebut, perlu dilakukan secara konsisten sehingga daya tahan UMKM dapat terus diperkuat. Kebijakan-kebijakan yang ada seyogianya harus mampu memperkuat potensi yang dimiliki UMKM dan bukannya memperlemah. Modal sosial, semangat solidaritas sosial yang tinggi, kemampuan fleksibilitas yang baik adalah contoh-contoh potensi UMKM yang dapat menjadi benteng dari dampak bencana maupun ancaman resesi global,” pungkasnya. (Ren/**)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here