Monday, April 15, 2024
spot_img
HomeEdukasiLayanan FMC Harus Utamakan Kualitas, Agar Tak Terjebak Perang Harga

Layanan FMC Harus Utamakan Kualitas, Agar Tak Terjebak Perang Harga

TM Jakarta – Layanan Fixed Mobile Convergence (FMC) yang kini digunakan operator telekomunikasi sebagai lini bisnis baru harus mengutamakan layanan dari sisi kecepatan, harga hingga layanan purna jual. Hal ini agar layanan baru FMC ini tidak terjebak pada perang harga atau perang tarif.
Pada acara Indotelko bertajuk “Babak Baru Layanan Broadband Bersama Fixed Mobile Convergence” di Jakarta, Selasa (23/5/2023), dua operator yakni Telkom dan XL Axiata sama-sama menekankan komitmen untuk tidak melakukan perang harga, melainkan mendorong sisi kualitas layanan untuk FMC.
Seperti diketahui, Telkom akan melakukan spin off Indihome masuk ke Telkomsel yang mana hal itu butuh persetujuan shareholder dalam RUPS yang akan digelar 30 Mei 2023 dan kemudian layanan baru atau produk baru hasil spin off ersebut mulai dipasaran Agustus 2023.
Harga produk baru ini menurut SVP Corporate Communication & Investor Relation Telkom Ahmad Reza, di rentang antara Rp 70.000-Rp 265.000, alias tidak akan di atas ARPU Indihome dan di bawah ARPU Orbit. “Kalau mahal, produk baru siapa yang mau,” kata Reza yang kembali disampaikan melalui rilis resminya, Senin (29/5)
Menurut Reza, berdasarkan studi di negara lain di Amerika dan Eropa, layanan FMC gagal lantaran operator fokus pada perang tarif. “FMC pakai paket murah bikin blunder, kemudian dipakai kanibal sehingga yang eksisting yakni layanan wireless hilang, padahal enggak boleh hilang sama sekali,” katanya.
Ia menilai, tarif FMC jangan terlalu mahal tapi jangan sampai perang harga. “Dan yang penting, jangan sampai harga turun, service lebih turun. Oleh karena itu nantinya layanan akan di-customize untuk customer tertentu, atau tarif berdasarkan layanan,” lanjut Reza.
Reza menambahkan, layanan FMC yang berkualutas kedepannya adalah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Menurut dia, kebutuhan di RI unik karena faktor geografis, dan kebutuhan untuk stabil digunakan di tiap wilayah Indonesia jadi tantangan.
“Kita bukan perang tarif tapi perang jaringan gimana cara pasarkan jaringan sebanyak mungkin ke masyarakat indonesia,” pungkas Reza.
Sementara XL Axiata, melalui layanan FMC XL Satu yang bergulir sejak 2021 kini fokus menggarap segmen keluarga. Menurut dia untuk layanan XL Satu, ada tiga pilar yang mereka pegang. Pertama, konsumer centric yakni untuk kebutuhan pelanggan secara end to end. Kedua, converge proposition dan modular, dimana konsumer pilih sendiri layanan dan tarif sesuai kebutuhan. Dimana harapannya, ketiga, membawa full digital journey bagi konsumer tersebut.
“Oleh karena itu, XL Axiata mengubah pola servis proposisi ritel ke servis atau layanan untuk Indonesian progressing family,” kata Group Head Indirect Channel Management XL Axiata Junius Koestadi di acara sama.
Dengan cara itu, XL Axiata menargetkan layanan XL Satu terdapat di lebih dari 150 kota pada dua tahun mendatang. Tujuannya agar pengguna yang ingin tambah device atau tambah speed bisa mudah dilakukan. Untuk itu, XL Axiata akan menambah partnership juga dengan berabagai mitra, misal engan edukasi, working need s dan sebagainya.
“Yang terpentingg, bagaimana ketersediaan jaringan kita, oleh karena itu pada 2025 ada di 150 kta akan dicover dengan home pass,” kata Junius. XL Axiata sendiri sebagai pelopor FMC di Indonesia meras apunya competitive advantage untuk tahu apa yang diinginkan konsumen, sehingga kemudian bisa memberikan lebih ke konsumen.
Menurut Junius, tantangan saat ini bukan tarif, tapi integrasi jaringan mobile XL Axiata dengan mitra, bagaimana menyatukannya dengan cepat.
“Tantangan lain dari sisi konsumen, yakni bagaimana mengkomunikasikan XL Satu dan benefitnya ke konsumen. Kami selalu bilang ini internet untuk kebutuhan di luar rumah, di rumah dan berbagi ke keluarga,” lanjutnya.
Data XL Axiata sendiri menunjukkan adanya perubahan perilaku penggunaan internet yang semakin cepat dan spesifik oleh warga RI selama pandemi Covid-19, dan tidak berubah usai jadi endemi pun. Sehingga, konsumen butuh internet yang kencang di manapun berada.
Jangan sampai masyarakat apatis pada layanan FMC Founder IndoTelko Forum Doni Ismanto Darwin mengingatkan agar layanan baru FMC tidak terjebak pada perang harga atau perang tarif. Sebab jika kembali terjebak ke dalam perang harga ketika menyelenggarakan FMC, maka yang dirugikan tidak hanya operator tetapi masyarakat.
Menurut Doni, di satu sisi FMC bisa menjadi mesin pertumbuhan baru di sisi keuangan bagi operator jika tidak terjebak dengan perang harga layaknya yang terjadi di layanan mobile broadband. FMC, lanjutnya, juga harus dijadikan sebagai era baru layanan broadband di Indonesia.
“Dimana dari sisi kecepatan pelanggan merasakan true broadband, dari sisi harga terjangkau, dan pelayanan purna jual membuat nyaman pelanggan,â€� kata Doni dalam acara Indotelko bertajuk “Babak Baru Layanan Broadband Bersama Fixed Mobile Convergence” di Jakarta, Selasa (23/5/2023).
“Kalau FMC ternyata sama saja dengan era 3G, 4G, atau 5G, lama-lama masyarakat bisa apatis dengan teknologi baru dan beranggapan itu hanya bagian dari gimmick pemasaran,â€� kata Doni. Direktur Eksekutif ICT Institute dan Anggota Komisi Komunikasi dan Edukasi Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) Heru Sutadi menambahkan, dengan adanya FMC, 2-3 tahun ke depan harapannya industri antara XL Axiata dan Telkomsel akan makin memperkuat posisi.
“Harapannya juga pelangan dapat layanan nomor satu sehingga akan mendorong hadirnya layanan broadband yang lebih luas lagi,” ujar Heru.
Ia mengingatkan, operator jangan sampai perang tarif layanan FMC ini. “Tapi tarifnya harus terjangkau, jangan sampai sangat murah juga karena yang rugi operator. Oleh karena itu cari titik tengah untuk tarif, tapi harapannya pembangunan broadband makin luas karena per rumah sudah butuh 40-50 mbps,” kata Heru.
Sementara Analis BRI Danareksa Niko Margaronis lebih menyoroti adanya peluang pendapatan baru operator dengan FMC. Sebab ada estimasi tambahan Rp 200 untuk ARPU. Di layanan mobile, ARPU antara Rp 40.000-Rp 45.000. “Itu very big plus, biaya bisa naik untuk ningkatin ARPU, tapi tetap bisa drive more revenues operator yang sekarang,” katanya.
Selain bisnis baru yang memberikan peluang pendapatan baru, FMC menurut Niko juga mendorong operator fokus bagaimana memberikan offering layanan yang lebih baik ke pelanggan sehingga ARPU pun bisa lebih sehat. (Red)

Editor: Rendy

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here