Monday, July 15, 2024
spot_img
HomeOpiniCatatan lepas Yos Naiobe "Bola itu Cinta"

Catatan lepas Yos Naiobe “Bola itu Cinta”

TM Jakarta – Kala pernyataan ini diungkapkan Fary Djemi Francis, saya teringat puisi Johan Cruyff yang dikutip dari pengantar buku Sindhunata berjudul ‘Bola di Balik Bulan’. Bunyinya kira-kira seperti ini:
In each game there only three minutes and those of course subdivided into moments that really matter. In three minutes you win or lose” (Kalah atau menang itu terkadang hanya ditentukan dalam waktu tiga menit saja).
Fary Djemy Francis merupakan salah satu calon Ketua Umum PSSI periode 2023-2027 yang bakal digelar di Hotel Shangri-La 16 Pebruari 2023. Pemain bola nasional era 1980an ini hadir dalam kaukus sepakbola nasional bertajuk Nyalakan Nyali Membangun PSSI, di My Ten caffe di bilangan Senayan, Senin (13/2/2023).
Pemaknaan kata cinta dalam dunia sepakbola, bagi anggota DPR RI periode 2014-2019 ini bersayap. Ia ingin menegaskan bahwa sepakbola tidak sebatas industri. Lebih dari itu sepakbola merupakan magnet yang menghipnotis manusia sejagat. Pertandingan itu membangkitkan gairah persatuan. Simak kata-kata pria kelahiran 9 Pebruari 1968 yang kini bermukim di Kupang, Nusa Tenggara Timur.
“Sepakbola itu cinta. Kita sudah capek rusak dan susah saat sepakbola kita hanya berisi kontroversi; tawuran suporter, peraturan pertandingan, kompetisi tanpa emosi, pembinaan terabaikan dan tamparan paling kelam adalah tragedi Kanjuruhan. Sedih,” ujarnya prihatin.
Politisi partai Gerindra besutan Prabowo Subianto ini seakan mewakili kekecewaan publik terhadap prestasi sepakbola yang belum menunjukkan hasil menggembirkan. Selama 32 tahun sejak di Sea Games 1991 dunia sepakbola kita paceklik prestasi. Ayah tiga anak ini mencontohkan Kamboja maju pesat. Negara lain seperti Thailand dan Vietnam terus jadi raja ASEAN.
Komisaris Utama PT ASABRI ini lantas menyerukan persatuan sebagai solusi tawar. “Bersatulah. Jangan mau lagi terpecah belah. Kita sudah lelah. Kita mesti well plan, progresif dan solid,” pintanya.
Owner Bintang Timur Academy (BeTA) Atambua ini terus saja menggelorakan cinta dan persatuan. Ia ingin para pencinta bola membangun mimpi yang sama tentang piala Asia, juara Asian Games, juara AFF, dan Sea Games.
“Kita bersatu untuk itu! Iya, itu! ucap eks ketua Komisi V DPR RI sambil menerawang.
Setidaknya bung Fary mantan pemain Timor Leste (Tim-Tim), demikian nama familiarnya telah membuka mata hati kita tentang prestasi sepakbola di tanah air yang masih mengawang entah di lapisan langit ke berapa. Nah sambil menanti dan berharap siapa yang bakal menahkodai organisasi PSSI pada KLB mendatang. Bung Fary telah menanamkan rasa optimistis akan kebangkitan sepakbola tanah air.
Rasa optimisme ini selaras dengan Franz Benckenbauer. “Tidak pernah ada tim yang selalu menang dan selalu kalah. Yang ada hanya kalah atau menang!..
Kejayaan seorang pemain atau suatu tim sepakbola pasti mengenal batas. Tak pernah ada sebuah kesebelasan yang terus berjaya. Mereka sadar betul bahwa suatu ketika ia akan jatuh, meski tak pernah dikehendakinya. Dalam pengalaman saya sebagai pemain maupun pelatih, saya pernah bahkan berulang-ulang merasakan sakitnya sebuah kekalahan”. (Red)
Penulis: Dewan Redaksi Kampiunnews, Mantan Wartawan Harian SINDO (MNC Grup) Biro Makassar.
RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here