TM Kab Bogor – Kegiatan pembakaran sampah secara terbuka (Open Burning) di area lingkungan SMP Negeri 1 Gunung Putri yang berlangsung disaat kondisi sekolah ramai oleh siswa didik sangat menciderai dunia pendidikan.
Selain dapat memicu terjadinya kebakaran, open burning di TPS (Tempat Penampungan Sampah sementara) sekolah turut dapat mejadi contoh negative terhadap pemahaman (maindset) siswa didik terhadap pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.
Pemerhati pendidikan Ricky Angkuw menilai kondisi tersebut merupakan wujud kurangnya keperdulian (empaty) dan abainya pengawasan dari pihak sekolah terhadap adanya kegiatan pembakaran sampah di lingkungan sekolah.
“Ketika proses pembakaran sampah di sekolah disaat adanya kegiatan proses belajar mengajar atau saat adanya aktivitas di sekolah yang terdapat guru dan murid, maka saya menilai itu merupakan bentuk kealpaan pengawasan, pengabaian dan kurangnya empaty terhadap berbagai kegiatan di sekolah,” ujar Ricky Angkuw selaku pemerhati pendidikan kepada media ini, Minggu (13/7/25).
Pemerhati yang juga berprofesi sebagai konsultan hukum di Bogor itu mendorong pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor untuk memberikan teguran keras terhadap sekolah maupun penanggung jawab sekolah (Kepsek), dengan maksud untuk tidak lagi ada kegiatan pembakaran sampah di lingkungan sekolah.
“Disdik harus memberikan teguran keras terhadap pengabaian akan hal itu. Bahkan, wujud pemberian sanksi saya kira juga harus diberikan sebagai pembelajaran bagi sekolah lain untuk tidak membiarakan ataupun mengizinkan kegiatan pembakaran sampah di lingkungan sekolah dilakukan,” kata dia.
Selain meniru contoh orang tua di rumah, Ricky Angkuw pun mengatakan, usia siswa didik di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) berpotensi kerap mengikuti apa yang dicontohkan, diperlihatkan dan dilakukan oleh para pendidik di lingkungan sekolah.
“Jadi jangan sampai juga kegiatan pembakaran sampah yang dibiarkan dilakukan dilingkungan sekolah akan dicontoh oleh siswa didik. Jadi hal itu (open burning-red) harus benar-benar dipastikan tidak dilakukan di lingkungan sekolah,” tutup dia. (RDI)