Foto/gambar: kalapas Tunggul Buono dan produk kopi juga jahe dan keterampilan tenun di lapas kelas II A kota metro
TM Metro – Kopi dengan merek PAS menjadi produk unggulan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A. Kota Metro yang dipamerkan pada hari Bhakti Permasyarakatan Ke 61 tahun.
Kegiatan yang berlangsung sejak 21 hingga 23 April 2025 di lapangan Banteng, Jakarta Pusat itu,
menyelenggarakan pameran dan penjualan hasil karya warga binaan dalam bentuk produk UMKM, industri dan seni.
Pada kesempatan itu, Kopi dengan merek PAS yang dipamerkan pihak Lapas Kelas II A Kota Metro, sangat laris dan diminati oleh pengunjung pameran.
Bahkan saat ini pihak Lapas Kelas II A Kota Metro pun akhirnya mendapat pesanan kopi dari berbagai pihak.
Tunggul Buwono, S. Md.IP., S.H., MH. Kepala Lembaga Permasyarakatan (Kalapas) Kelas II A Kota Metro, ketika ditemui di ruang kerjanya mengatakan pihaknya terus menciptakan kreativitas kerja bagi warga binaan yang produktif dan berkelanjutan, Selasa 22 April 2025.
Saat ini produksi kita rutin dan untuk bahan baku kopi jenis Robusta yang memiliki kwalitas terbaik di wilayah Lampung, yang biji kopi nya dipetik sudah merah dari luar kota metro, yaitu di Kabupaten Lampung Barat dan Tanggamus. Beber Kalapas.
Masih kata Kepala Lapas, selain pengolahan dan memproduksi kopi lapas juga membina warga binaan untuk budidaya ikan lele serta bercocok tanam dilahan pertanian dilingkungan Lapas.
Contohnya sayur mayur dan tanaman rempah, seperti jahe dan lainnya.
Untuk pemasaran kopi sendiri kita sudah banyak bermitra di kota metro dan swalayan, kata Kalapas.
Dia juga berharap agar produk hasil warga binaan kedepannya dapat lebih produktif.
Dengan tenaga warga binaan yang terampil, usaha Kopi tersebut dapat lebih baik dan berkembang, sehingga dapat lebih diminati masyarakat dipasaran. Ungkapnya.
Ditempat yang sama, Solahudin Kasi. Kegiatan Kerja Lapas Kelas II A Kota Metro menjelaskan, “untuk sementara ini kita memproduksi kopi dengan kemasan 150 gram dan 200 gram.
Untuk penjualan nya sendiri selain untuk mencukupi kebutuhan pangan di dalam Lapas, kita juga jual keluar Lapas, baik itu dari produksi kopi, sayuran, jahe juga ikan. Kata Solahudin.
Sementara itu Budiyono Kasi. Produksi yang ditemui di tempat lokasi pengolahan kopi dan jahe bubuk tersebut, menuturkan “untuk bahan awal kita lakukan pemilihan bahan yang berkualitas dan yang benar-benar petik merah dari pohon, dari Lampung Barat dan Tanggamus.
“Setelah itu kita lakukan proses pengeringan dan setelah itu kita istirahatkan semalaman untuk membuang antioksidannya guna untuk mendapatkan sari murni kopi Robusta nya. Setelah itu kita ketahap penggilingan karena dilapas metro ini menggunakan kopi murni asli tanpa campuran apapun yang kita pakai”, terang Budiyono
Budiyono juga menjelaskan , “karena pasaran harga kopi sekarang ini melonjak tinggi dan kita harus mampu bersaing di pasaran, untuk produk kopi kemasan 200 gram, kita beri harga Rp.35 ribu, sedangkan untuk jahe Rp 20 ribu dengan berat 200 gram nya.
Saat ini pihaknya telah melayani pesanan dari beberapa konsumen dan juga mitra hingga diluar daerah Kota Metro, kata Budiyono.
Selain kopi dan jahe, Lapas Kelas II A Kota Metro pun membudidayakan ikan lele, hal itu tentunya untuk meningkatkan sistem pertahanan negara dan mendorong kemandirian warga binaan melalui swasembada pangan. Sebagaimana salah satu program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Boyno salah satu pegawai Lapas ditemui di seputaran kolam ikan lele, mengatakan hasil panen ikan lele yang dibudidayakan itu, selain untuk memenuhi kebutuhan warga binaan, selebihnya dapat dijual diluar Lapas.
Kolam yang dikelola warga binaan itu, ada beberapa kolam sehingga proses budidaya nya kita buat secara berkelanjutan. Dalam kurun waktu 10 hari sekali kita memenuhi kebutuhan Lapas, sedangkan untuk panen rayanya satu bulan sekali. Jelasnya.
Selain telah memproduksi kopi dan jahe, serta budidaya ikan lele, Lapas Kelas II A Kota Metro itu pun, memberikan pendidikan tentang cara menyulam kain khas masyarakat suku Lampung (Tapis) pada warga binaan.
Dengan berbagai kegiatan tersebut, Lapas Kelas II A Kota Metro pun berupaya untuk membentuk warga binaan menjadi individu yang lebih bertanggung jawab, produktif, dan mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan di masyarakat setelah bebas.
(Yono)