Kondisi benih bantuan dan keadaan phon kedelai dari salah satu petani di Kabupaten Serang, (Foto/TM)
TM Kab Serang – Keberlanjutan program pengembangan bibit kedele dengan varietas unggul lokal di Kabupaten Serang gagal terealisasi. Sempat digadang-gadang akan menjadi daerah percontohan dalam pengembangan kedelai di Indonesia, Pemerintah Kabupaten Serang cukup menyayangkan penanaman bibit unggul dengan varietas kebanggaan petani Serang yang bernama Migo Ratu Serang harus gagal tertanam di 500 Ha lahan seperti yang sudah direncanakan.
Persoalannya, karena dukungan sinergitas dari dinas pertanian provinsi patut diduga menyimpang dari spek rekomendasi tim Ahli penemunya dan bahkan diganti dengan pengadaan benih kedelai varietas lain yang bukan varietas unggul lokal kedelai Migo Ratu Serang.
“Bahkan rendah daya tumbuhnya jauh dibawah ketentuan label yang tertera. Pemerintah Kabupaten Serang dari info yang saya dapat juga cukup menyayangkan penanaman bibit unggul dengan varietas kebanggaan petani Serang yang bernama Migo Ratu Serang harus gagal tertanam di 500 Ha lahan seperti yang sudah direncanakan. Hanya sebagian kecil saja yang sukses karena benih yang diberikan dari dinas pertanian kabupaten Serang konsisten dengan kedelai unggul lokal MIGO RATU SERANG sesuai paket SOP bahkan sebagian petani telah panen dengan produktivitas rata rata diatas 3,6 ton/ha,” ujar AB Roni, salah satu tim dari penemu bibit Migo Ratu Serang kepada media ini, Jumat (11/11).

Selain mendapat sorotan dari para petani kedelai, pihak tim Ahli untuk percepatan bibit unggul lokal varietas lokal Migo Ratu Serang turut mempersoalkan adanya kebijakan penggantian penggunaan varietas dalam program penanaman bibit diatas lahan 500Ha seperti yang telah disepakati.
“Kesepakatan telah disepakati dalam pertemuan yang dengan lengkap dihadiri oleh berbagai pihak, diantaranya, perwakilian Kementan, Dispertan Provinsi Banten, Pemkab Serang, serta kami pihak pemulia penyedia sumber benih Indukan kedelai varietas Migo Ratu Serang untuk ditanam diatas lahan 500Ha di Kabupaten Serang, sebagai program ketahanan dan swasembada pangan kedelai seperti yang telah dicanangkan Kementan oleh Menteri Pertanian RI saat hadir langsung dalam panen raya kedelai lokal Varietas Migo Ratu dan varietas Dega 1 di Kecamatan Cinangka, pada September 2022 lalu,” ungkap AB Roni yang juga ketua koperasi di serang, perwakilan penyedia bibit kedelai.
“Dan faktanya sejak bulan juli sampai akhir oktober masih belum ada hujan sehingga belum masuk musim tanam pada umumnya dan faktanya setelah di konfirmasi di lapangan ada panen kedelai Migo Ratu sejak pertengahan bulan oktober sampai november yang sedianya mendukung program benih 500 ha Kedelai Migo Ratu Serang, tetapi Dinas Pertanian Provinsi Banten sebagai Pihak penyedia benih untuk petani sudah mengganti dengan varietas Anjasmoro dan sudah didistribusikan sejak bulan oktober tanpa persetujuan dan berkoordinasi dengan tim Ahli dan penyedia benih lokal Migo Ratu yang siap Panen untuk dijadikan benih program ini,” bebernya.
“Semoga hal ini bisa segera menjadi perhatian dari Pj Gubernur, Setda, Inspektorat, Kejaksaan, maupun pihak Polda Banten. Hal itu untuk keberlangsungan dari budidaya penanaman kedelai dan kesejahteraan para petani, khususnya petani kedelai kabupaten serang,” pungkasnya.
Selain memberikan informasi yang bisa dipertanggungjawabkan, AB Roni turut mendorong media untuk bisa turun langsung menemui petani. Guna mendukung hal itu, AB Ronijuga mencoba untuk bisa mempertemukan media ini dengan Prof Ali Zum, selaku pemerkasa dan penemu dari varietas MIGO RATU SERANG yang harusnya digunakan dalam program penanaman bibit diatas lahan 500Ha seperti yang telah disepakati.

DI hari berikutnya investigasi yang dilakukan media ini, Prof Ali Zum saat dikonfirmasi mengatakan malah merasa ingin mendapat perbandingan kedelai varietas Migo Ratu Serang dengan varietas yang akhirnya dipilih oleh Dispertan Provinsi Banten (Varietas Anjasmoro) untuk program penanaman benih kedelai di 500Ha dengan total penanaman benih hingga 21 Ton, 3 ton diberikan Dega 1. Dengan turut mengajak media ini, Prof Ali Zum tertarik untuk mencoba meninjau realisasi penggunaan benih dengan varietas tersebut bersama dengan media ini yang turut bisa mendapat fakta dilapangan.
“Iya pak, kami putuskan untuk tidak melanjutkan sisa dari benih yang belum ditanam pak (sisa seperempat karung). Iya karena sudah lebih dari 24 hari, sepertinya tumbuhnya tidak seperti yang disosialisasikan pak, baru sekitar semata kaki,” ujar N dari Gapoktan Budi Makmur di Desa Cikolelet, saat disambangi media ini bersama Fauzun dan Prof. Ali Zum Mashar yang merupakan pencetus dari benih kedelai varietas Migo Ratu Serang pada Sabtu (12/11).
“Iya pak, gagal sepertinya pak. Sudah 24 hari tanam tapi cuma 10% yang tumbuh, itupun tidak normal masih pendek-pendek pohonnya dan dari asal benihnya juga banyak yang rusak, dijadikan tempe saja tidak bisa dimakan “pahit” karena bijinya banyak yang hitam dan kempes,” keluhnya.
Sambil mengajak awak media ke lokasi tempatnya menanam, N menyebut awalnya dalam sosialisai di BPP (Balai Penyuluh Pertanian) Kecamatan, dia bersama kelompok tani lain akan diberikan benih dengan varietas dega ataupun migo ratu.
“Saya juga tau nya yang akan diberikan itu kan dega atau migo ratu pak ya, tapi ini kita dikirimnya bukan itu. Bukan gimana pak ya, ketika dibuka juga banya benih yang rusak pak, dan kecil-kecil benihnya, gimana itu pak ya,” sebutnya sambil menceritakan kalau lahan tempat menanamnya merupakan sewa dengan pembayaran bagi hasil.
Ketika dimintakan tanggapannya atas hasil tinjauannya, Profesor yang merupakan penemu Kedelai Migo Ratu Serang dan teknologi Bioperforasi microba google sebagai penyubur tanah itu enggan memberikan statetment nya dan meminta awak media dapat menganalisa fakta yang dilihat di lahan milik tani kedelai, dan dapat menilai sendiri kondisi dari, petani, kondisi bibit kedelai, maupun realita dari pohon kedelai itu sendiri.
“Iya mas nya bisa lihat sendiri hasil dan penuturan dari petaninya itu sendiri. Itu kan lebih memberikan kepastian akan fakta. Tapi untuk mengomentari soal varietas yang digunakan oleh petani, sepertinya lebih elok untuk bisa pertanyakan saja langsung kepada pihak provinsi sebagai penanggungjawab dari penyedia benih program ini,” ucapnya.
“Pastinya sampel dari varietas yang digunakan oleh petani dengan nama bapak Nurkolis ini sudah diijinkan oleh yang bersangkutan untuk bisa saya bawa sebagian. Pastinya untuk bisa jadi bahan perbandingan buat kami,” tutupnya.
Menelusuri lokasi lain, media ini juga mendapati Kepala Desa yang merasa tidak diberitahukan akan adanya perubahan penggunaan varietas lain selain dega dan migo ratu oleh kelompok tani di wilayahnya.
“Ini saya baru tau juga karena kedatangan bapak. Setahu saya, yang diinfokan kepada kami, kelompok tani di Desa Siponggang melaksanakan program penanaman benih kedelai itu dengan varietas kebanggan kabupaten serang, yaitu dega dan migo ratu serang,” ungkap Kepala Desa Siponggang.
“Jelas kalau ditanya pendapat ya saya juga turut menyayangkan bila pengembangan bibit kedele migo ratu serang itu tidak jadi ditanam oleh petani di desa kami. Apalagi itu jelas produk unggulan yang sudah sering disampaikan oleh Ibu Bupati dalam berbagai kesempatan,” pungkas Kades.

Dilokasi lain, salah satu ketua kelompok tani di Kecamatan Baros yang meminta untuk tidak disebutkan namanya juga menyayangkan penanaman benih kedelai tidak seperti yang telah disosialisasikan, yaitu dengan menggunakan varietas dega ataupun migo ratu.
“Kalau soal hasil ataupun bagus tidaknya dari benih yang kami tanam, sepertinya kami belum bisa memastikan pak, tapi menurut kami iya baik-baik saja sejauh ini. Justeru yang kami heran, kenapa bibitnya bukan dega atau migo ratu yang kami terima, padahal saat pertemuan, penjelasannya dari BPP akan mengirimkan dega maupun migo ratu untuk kami tanam,” herannya.
Lebih memastikan proses dari program budidaya penanaman dari benih kedelai yang diadakan Dispertan Provinsi Banten di 500Ha hamparan di wilayah kabupaten serang, dipenelusuran berikutnya, awak media masih diberi kesempatan bersama dengan AB Roni untuk bisa kembali menyambangi beberapa petani lain (prihal memudahkan untuk bisa langsung berinteraksi dan meminta klarifikasi kepada petani secara langsung-Red).
Berbeda dengan petani yang sebelumnya, petani benih kedelai Husein yang ada di Kp Cibereum mengatakan tidak mempersoalkan masalah mutu benih kedelai yang diterimanya, namun hanya menyebut heran varietas yang diterimanya berbeda dengan varietas yang sudah disosialisasikan dalam forum bersama BPP di Kecamatan.
“Sudah hampir satu bulan pak ditanam, alhamdulillah sih sudah hampir mencapai sedengkul kaki tumbuhnya. Memang benih yang diterima juga banyak yang rusak ya, tapi namanya juga diberikan cuma-cuma iya gimana pak ya. Kami juga sempat tanya ke BPP kenapa yang dikirim kok anjasmoro dan bukan Dega atau Migo Ratu, karena pas rapat bilangnya kan akan diminta untuk tanam Dega atau Migo Ratu,” sebut Husein saat ditemui dilokasi rumah Kepala Desa.
Terkait ada pernyataan dari Husein yang menyebut kalau kelompok tani mereka menanam benih bukan Dega atau Migo Ratu, Kades Ponggang merasa terkejut dan kembali mempertanyakan akan informasi tersebut kepada petani tersebut (Husein).
“Kenapa malah menggunakan Anjasmoro? bukan programnya menggunakan MIGO Ratu Serang dan Dega ya untuk penanaman benih kedelai di Desa Ponggang. Kami juga merasa tidak pernah diberitahu soal pergantian varietas benih itu, khususnya yang masuk ke desa kami, kami nggak pernah diinfokan,” heran Kades.
Guna mendapat keterangan yang lebih berimbang, di hari berikutnya, media ini memutuskan untuk mendatangi Dinas Pertanian Provinsi Banten, sebagai penanggungjawab program tersebut. Dalam klarifikasinya, Dadan selaku Kasie di Dispertan Provinsi Banten memastikan program penanaman benih yang dimaksud telah berjalan, dan melalui tim monev (monitoring evaluasi), pihaknya mengklaim program terlaksana dan berjalan dengan baik.
“Sudah berjalan, dan hasil monev kami dilapangan masih sesuai dan baik. Bahkan sudah ada beberapa diberbagai lokasi tanam, ketinggian tanam sudah lebih dari pinggang orang dewasa tumbuhnya,” sebut Dadan saat menerima konfirmasi dari media ini di ruang kerjanya, Senin (13/11).
Dalam keteranganya, Dadan juga menyangkal ketika disinggung terdapat gagal tanam oleh salah satu petani di wilayah Kp Ciharam, Desa Cikolelet. Dia juga menjelaskan soal kenapa harus menggunakan varietas anjasmoro dan bukan menggunakan varietas dega ataupun migo ratu serang dalam pelaksanaan program tersebut.
“Kami Dispertan Provinsi Banten sudah memberikan kesempatan kepada pihak penyedia, yaitu tim dari Ali Zum untuk bisa ikut mendorong keberhasilan program ini dengan varietas migo ratu nya. Namun, setelah sudah mendekati waktu tanam, seperti yang telah disepakati juga diawal, realitanya penyedia masih belum mampu menyediakan 21 ton benih kedelai untuk proyeksi tanam diatas lahan 500Ha tersebut,” jelasnya.
“Bahkan, kami sudah mentolerir hingga di pertengahan Oktober, dan kami masih mempertanyakan kesiapan terhadap benih tersebut. Dan mereka masih belum mampu, serta masih meminta waktu diawal November yang notabene sudah benar-benar periode diakhir tahu, lalu kami pun tidak ingin juga terlalu spekulasi dengan kondisi tersebut yang akhirnya kami memutuskan untuk mengirimkan 18 Ton benih dengan varietas yang bersiat ready, dan anjasmoro ready,” ucap dia.
“Lalu soal ada informasi gagal tanam dengan benih anjasmoro di cikolelet, tim kami pun juga sudah monev ke lokasi tersebut, dan nyatanya disana berjalan dengan baik dan terdokumentasi oleh kami, hasilnya pun cukup baik dengan usia tanam yang berlangsung,” cetusnya mengklarifikasi hasil investigasi dari media ini, yang faktanya dilapangan juga didokumentasikan oleh media terdapat adanya indikasi kegagalan tidak sesuai seperti pernyataan Dadan.
Bahkan, media ini diingatkan olehnya untuk menjaga ke-independensi nya. Karena, dengan kebersamaan media ini ke lokasi petani bersama dengan pihak yang berkepentingan, patut diduga, media ini dianggap memiliki kepentingan dengan penyedia.
“Mas nya udah dengar belum kalau ada orangnya kedelai Migo Ratu yang disomasi,” ujar Kasie Dispertan Pemprov menginformasikan kepada media ini yang entah tidak diketahui maksud dari pernyataannya tersebut dalam konteks konfirmasi yang disampaikan.
