TM Pringsewu, Lampung – 9 Februari 2026 – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) untuk siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Pekon Waringin Sari Timur, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu menuai kritik keras dari sejumlah warga dan wali murid. Kritik muncul karena kualitas serta kuantitas makanan yang diberikan dinilai tidak sesuai dengan alokasi anggaran pemerintah sebesar Rp15 ribu per siswa setiap kali pemberian.
Menu MBG Hanya Setara Rp 7 Ribu, Jauh Di Bawah Anggaran
Berdasarkan informasi dari wali murid, menu yang disediakan sejak program beroperasi satu minggu terakhir belum pernah mencapai nilai anggaran yang ditetapkan. Contoh konkret pada hari Sabtu (7/2/2026) lalu, siswa hanya menerima satu buah apel, 10 biji kacang tanah, lima butir telur puyuh, dan dua lembar roti tawar. Jika dihitung berdasarkan harga pasaran saat ini di Palembang dan sekitarnya, total nilai menu tersebut hanya sekitar Rp7 ribuan per siswa.
Salah satu wali murid yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan kekhawatirannya saat diwawancarai pada Minggu (8/2/2026). “Menu yang diberikan tidak sesuai dengan budget pemerintah yang sudah ditetapkan. Setiap hari menu yang datang tidak sampai Rp10 ribuan per siswa, padahal anggarannya Rp15 ribu,” ucapnya.
Penyedia makanan MBG tersebut adalah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) berbasis di Pekon Enggal Rejo yang dipimpin oleh Siam.
Kepala Sekolah Tak Dapat Beri Penjelasan, SPPG Tidak Ditemukan
Tim media mengunjungi salah satu sekolah penerima manfaat, SMPN 2 Adiluwih, untuk mendapatkan klarifikasi. Kepala Sekolah, Pak Muhsin, S.Pd, tidak dapat memberikan penjelasan jelas terkait kesesuaian menu dengan anggaran. Ia hanya mengarahkan agar konfirmasi dilakukan langsung kepada pihak SPPG.
Namun, saat tim media datang ke lokasi SPPG Enggal Rejo, tidak ada pihak manajemen maupun pemilik yang dapat ditemui atau memberikan keterangan terkait keluhan yang muncul.
Masyarakat Khawatir Ada Penyelewengan Anggaran
Kondisi ini membuat masyarakat khawatir akan adanya praktik penyelewengan anggaran bahkan potensi korupsi. Perbedaan yang signifikan antara anggaran yang dikeluarkan dengan nilai makanan yang diterima siswa menjadi titik perhatian utama.
“Mereka harus segera menyelidiki kasus ini. Program MBG dibuat untuk meningkatkan gizi anak-anak kita, bukan untuk diambil keuntungan sendiri,” ujar salah satu warga Pekon Waringin Sari Timur.
Masyarakat mengajak Pemerintah Kabupaten Pringsewu dan Dinas Pendidikan terkait untuk segera menindaklanjuti. Penyelewengan dalam program ini tidak hanya merugikan keuangan negara tetapi juga berdampak pada kesejahteraan dan perkembangan kesehatan siswa sebagai generasi penerus bangsa.
Belum Ada Tanggapan Resmi Dari SPPG
Hingga berita ini diterbitkan, pihak manajemen maupun pemilik SPPG Enggal Rejo masih belum memberikan tanggapan resmi atau keterangan terkait keluhan yang diajukan. Tim media akan terus mengikuti perkembangan kasus ini dan memberikan informasi terbaru seiring dengan kemajuan penyelidikan yang dilakukan oleh pihak berwenang.(Red)