Wawancara exclusive media TabloidMantap Group dengan Ketua Pokta Wahyu Tanah Sunda di Desa Galuga Kabupaten Bogor, Selasa (15/10/24). Foto/Effendi
Namun demikian, H Slamet juga memahami kalau proses bertani yang dilakukan (dengan memanfaatkan air leancheat-red) oleh dia dan kelompok tani nya masih menjadi sesuatu yang bersifat kontroversial, dan dia pun tidak mempermasalahkan anggapan negatif terkait penggunaan air sampah (leancheat) itu.
“Kontroversial sih katanya. Lalu, kalau memang bersifat bahaya untuk dikonsumsi nyatanya sampai sepuluh tahun pemanfaatan air leancheat pada bawang merah dan sayur mayur belum pernah saya dengar ada yang terganggu atau sakit habis makan itu,” tutur dia.

Bahkan dirinya membenarkan cukup senang mengetahui kondisi pipa penyaluran air lindi di TPAS Galuga itu banyak yang sudah bocor. Karena kata dia, justeru itu membantu keberlangsungan bertani para petani di Desa Galuga.
“Justeru saya lumayan pusing ketika air lindi dari TPAS itu kalau kering. Karena akan dikeluhkan oleh para petani yang sudah mendapat manfaat akan keberlangsungan panen pakai air lindi itu,” cetusnya.
Sebagai informasi, media ini pernah mendiskusikan prihal penggunaan air leancheat untuk berkebun maupun bertani di Desa Galuga kepada pihak Dinas Tanaman Pangan dan Holtikultura (Distanhorbun) Pemerintah Kabupaten Bogor. Dalam keterangan yang pernah dihimpun kala itu, pihak (Kabid Judi R) Distanhorbun justeru merasa baru mengetahui akan adanya poktan di desa galuga yang menjalankan proses cocok tanam dengan penggunaan air leanchet.
Merasa hal itu tidak dibenarkan, saat itu Kabid Judi R mengatakan akan langsung menginstruksikan jajaran Distanhorbun untuk mengecek langsung ke lokasi yang diinformasikan oleh media ini. Namun, prihal Kabid yang bersangkutan diketahui telah pensiun, media ini masih belum mendapat informasi terbaru atas hasil tinjau lokasi dari Distanhorbun ke poktan desa Galuga.

Untuk diketahui, dikutip dari waste4change, Air lindi atau leacheat merupakan air limbah yang dihasilkan akibat masuk nya air eksternal seperti air hujan ke dalam timbunan sampah yang melarutkan materi organik dari hasil dekomposisi sampah. Cairan lindi mengandung bakteri, parasit serta kandungan berbahaya lainnya yang dapat memberikan kerugian bagi warga yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah.
Cairan lindi dapat berbeda di satu tempat pembuangan sampah dengan yang lainnya. Kandungan air lindi bergantung dari kandungan dan umur tempat pembuangan sampah, prosedur degradasi, iklim serta kondisi hidrologis. Namun secara umum air lindi memiliki karakteristik dengan kebutuhan oksigen kimia dan biologis yang tinggi serta terdiri dari zat-zat yang tidak diinginkan seperti kontaminan organik dan anorganik.
Keracunan timbal akan mengakibatkan gangguan pada otak, ginjal, dan hati. Paparan merkuri dapat mengakibatkan kanker, terganggunya fungsi hati dan sistem saraf. Keracunan kadmium ringan ditandai dengan perut mual, muntah-muntah, diare, luka hati, hingga gagal ginjal. Selain kandungan logam, air lindi didapati mengandung mikroba parasit seperti kutu air yang menyebabkan gatal-gatal pada kulit.
Terdapat kasus kesehatan di Piyungan, Bantul akibat air lindi yang dihasilkan. Salah satu warga Piyungan mengeluhkan air lindi yang mengalir ke sawah mereka yang berasal dari TPST Piyungan. Menurutnya air tersebut mencemari sawah mereka sehingga terjadi gagal panen.
Media ini rencananya akan kembali coba mengkonfirmasi pihak Distanhorbun pemerintah Kabupaten Bogor prihal klaim kebanggaan Ketua Poktan Wahyu Tanah Sunda di Desa Galuga akan hasil panen yang telah menjadi konsumsi masyarakat luas tersebut. (RDI & Ponres/Effendi)
Info Penulis
BagikanPages: 1 2