Wilson Colling (SH MH) pengamat pertanahan skaligus praktisi hukum. (Foto/TM)
TM Jakarta – Pernyataan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) RI, Nusron Wahid, baru-baru ini telah memicu diskursus publik yang tajam. Pernyataan yang menyebut bahwa, “Mafia akan terus ada sampai kiamat kurang dua hari,” sontak menjadi sorotan.
Sebagai seorang pemerhati pertanahan skaligus praktisi hukum yang dalam puluhan tahun karier profesional sering bersinggungan langsung dengan peliknya sengketa pertanahan merasa pernyataan tersebut tidak hanya mengejutkan, tetapi juga sangat pesimistis dan problematik.
“Pernyataan seorang pejabat publik, apalagi setingkat menteri yang memegang portofolio strategis seperti pertanahan, bukanlah sekadar untaian kata. Ia adalah cerminan dari sikap, visi, dan komitmen kepemimpinan. Menyatakan bahwa mafia (dalam konteks ini, mafia tanah) akan abadi hingga menjelang kiamat adalah sebuah bentuk fatalisme yang berbahaya,” ujarnya kepada media ini, Jumat (14/11/25).
Menurut Wilson, pernyataan yang tidak mencerminkan tanggung jawab seorang pejabat publik itu menunjukkan realita terbalik dengan mandat, amanah, serta anggaran yang besar dari seorang leader di Kementerian ATR/BPN justru untuk memberantas praktik lancung tersebut, bukan untuk memberikan justifikasi atas eksistensinya.
“Rakyat Indonesia, terutama mereka yang hak atas tanahnya dirampas, tidak mengangkat seorang menteri untuk pasrah menunggu hari kiamat. Rakyat membutuhkan tindakan nyata, terobosan hukum, dan keberanian untuk membongkar praktik culas yang telah mengakar,” sindir Wilson.
Pernyataan pesimistis ini, lebih lanjut Wilson menjelaskan, secara tidak langsung mengonfirmasi apa yang selama ini menjadi rahasia umum, betapa sulitnya membersihkan mafia tanah karena akarnya mungkin sudah terlalu dalam di internal lembaga itu sendiri.
Wilson menduga, pernyataan ini muncul karena bisa jadi terlalu banyak oknum BPN/ATR di internal kementerian, dari level pelaksana di kantor-kantor pertanahan daerah sampai level atas, yang justru terlibat langsung atau minimal memfasilitasi praktik mafia tanah.
“Jika pimpinan tertinggi sudah menyiratkan sikap pasrah, bagaimana mungkin jajaran di bawahnya memiliki semangat juang untuk melakukan pembersihan? Jika seorang nakhoda sudah pesimis kapalnya bisa selamat dari badai, itu pertanda ia mungkin tidak tahu cara membaca kompas atau mesin kapalnya memang sudah rusak parah dari dalam,” cetus dia.
Oleh karena itu, menurut Wilson, jika Menteri ATR/BPN memang merasa tidak sanggup memberantas mafia tanah di lingkungan internal BPN/ATR, langkah yang paling terhormat adalah mengundurkan diri dari jabatan. “Tidak perlu menunggu sampai hari kiamat. Publik membutuhkan pemimpin yang optimistis dan memiliki strategi tempur, bukan pengamat yang pasrah pada keadaan,” imbuhnya.
