Kondisi Pipa uap gas pembangkit tenaga listrik yang nyaris menempel rumah warga desa Muara Dua, kecamatan Ulubelu, Tanggamus. (Foto/TM)
TM Tanggamus – Tenaga Listrik memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, dan pembangunannya pun sangat didukung oleh pemerintah juga masyarakat luas, baik itu memakai tenaga air dan juga tenaga uap, tetapi dengan mengutamakan kesehatan, keselamatan warga sekitar.
Hal tersebut nampaknya patut diduga diabaikan oleh PT.Pertamina Geotermal Energi (PGE) yang mana adanya pemasangan pipa saluran gas uap didepan rumah salah satu warga desa Muara Dua(2), kecamatan Ulubelu, Kabupaten Tanggamus justeru berpotensi akan adanya kekhawatiran akan keselamatan, kesehatan, dan bahkan keberlangsungan kegiatan dari masyarakat disekitarnya.
Pemasangan pipa yang tepat didepan rumah Mirawati, bahkan bila dapat digambarkan, nyaris nempel dengan rumahnya itu, menjadi kekhawatiran, was-was dan ketakutan tersendiri bagi Mirawati. Kekhawatiran tersebut langsung diutarakan oleh sang pemilik rumah (Mirawati) kepada awak media Tabloid Mantap.com dari TM group saat meninjau langsung kelokasi.
“Pernah kejadian pada saat itu pak, pipa itu mengeluarkan asap panas karena pipa lepas dan terendam air hujan,” ungkap Mirawati dirumahnya, Senin (15/7/24).
“Saya juga pernah konfirmasi kepada pak “Dadang (selaku humas PT PGE), “pak ini pipa kebuka gimana?” Tanya saya sama pak Dadang, tapi tidak ada tanggapan dari pak Dadang,” sambungnya.
“Kalau mengganggu sudah pasti mengganggu pak apalagi waktu keluar asap, karena baunya juga gak enak dan kalau saya nyuci dan jemur pakaian harus dicuci ulang sebab baunya itu menempel di pakaian. Rasa takut, pasti takut pak apalagi kejadian pipa bocor seperti waktu itu,” cemas dia.
Ditanyakan oleh awak media, apakah pasca pemasangan pernah terjadi kejadian semacam kebocoran terhadap pipa tersebut, Mirawati pun mengatakan memang belum pernah terjadi.
Mirawati dalam konfirmasinya pun menyinggung akan adanya biaya kompensasi yang diterimanya terhadap menjalarnya pipa milik PT PEG itu. Dia menyebut, bahwa sejak awal pemasangan hingga saat ini, pihaknya hanya mendapat uang kompensasi sebesar Rp. 400rb.