Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) Benny Suryo Sabath Hutapea. (Foto/Tim)
advertisment
advertisment
TMJakarta – Ketua Dewan Pembina Perkumpulan Petani Sarang Walet Nusantara (PPSWN) Benny Suryo Sabath Hutapea menyampaikan fenomena melemahnya kondisi industri Sarang Burung Walet di Indonesia. Benny Hutapea sapaan akrabnya menceritakan sejarah bisnis liur walet ini yang sudah berkembang sejak abad ke-17.
Katanya, pada abad ke-17, sarang burung walet dimanfaatkan sebagai makanan sehat untuk tubuh. Dari catatan tersebut, diketahui bahwa Admiral Zheng He atau disebut Cheng Ho dan armada kapalnya sedang berlayar di laut.
Salah satu armada kapal Zheng He secara tidak sengaja makanan sarang burung walet yang cukup banyak yang terletak di dinding goa.
“Mereka (red- pelaut Cina) sempat terjebak dalam badai topan, yang membuat mereka kelaparan, karena tidak adanya makanan dan minuman yang memadai. Mereka pun mencari apa saja agar bisa menjadi makanan, salah satunya sarang burung walet,” kata Benny Hutapea saat dihubungi wartawan senior Syafrudin Budiman, Kamis (20/8/2025) di Jakarta.
Menurutnya, tanpa pikir panjang, mereka kemudian mengambilnya dan berencana untuk memasak sup sarang walet, untuk pertama kalinya di dunia. Khasiatnya terasa pada keesokan harinya, karena tubuh mereka lebih fit dan segar.
“Dari sinilah mulai ditemukan salah satu manfaat sarang burung walet untuk kesehatan karena bisa menambah stamina dan kekebalan tubuh,” ucap Benny Hutapea pengusaha Sarang Burung Walet ini.
Maka dari itu kata dia, Admiral Zheng He memutuskan untuk mencari peruntungan melalui sarang burung walet dan menjadi hadiah pertama yang dipersembahkan kepada Raja Dinasti Ming (1368-1644 AD), Raja Ming Chengzu.
Tak heran jika kepopuleran sarang burung walet meluas di kalangan kerajaan Tiongkok dengan begitu cepat pada masanya. Di era tahun 1960-2019 harga jual sarang burung walet mahal bisa mencapai 40 juta perkilo.
Kata Benny Hutapea, perkembangannya makanan rumah walet sudah tersebar ratusan ribu di seluruh penjuru indonesia dan ada jutaan petani budidaya sarang burung walet.
“Para petani dapat meng-ekspor ke beberapa negara, yaitu china, hongkong, singapure, united states of america, australia, Thailand, Malaysia, Vietnam, Canada, Japan, Korea. Untuk kebutuhan, makanan, obat-obatan dan kosmetik,” tuturnya.