Keberadaan insenerator di Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya Kota Depok yang digembok oleh warga sekitar. (Foto/RDI)
TM Depok – Keberadaan mesin pembakar sampah insenerator yang berada di RW 05 Kelurahan Abadi Jaya, Kecamatan Sukmajaya Kota Depok harus berhenti beroperasi pasca adanya gelombang aksi penolakan dan protes warga akibat adanya dampak asap timbulan dari insenerator.
Kecaman dan aksi penolakan warga muncul karena proses insinerasi pada insenerator diduga masih berpotensi menghasilkan emisi karbon dan gas berbahaya meskipun telah melalui proses filtrasi dengan berujung adanya dampak gangguan pernapasan (ISPA) dari beberapa warga yang berdekatan dengan insenerator.
Pemilihan lokasi pemasangan, ketinggian cerobong asap serta dugaan kurangnya pendekatan (sosialisasi) terhadap warga terhadap keberadaan dan pengoperasionalan dari insenerator diduga menjadi alasan aksi protes warga yang berujung dengan aksi penggembokan mesin teknologi pengolahan sampah yang bekerja dengan cara membakar sampah pada suhu tinggi tersebut.
Potensi minimnya sosialisasi mendasar (sebelum dibangunnya insenerator-red) dari pihak penyelenggara dan penanggungjawab proyek diduga turut menjadi pemicu awal akan adanya aksi penolakan dari warga. Bahkan, pihak petugas penjaga insenerator yang berhasil dimintakan keterangan pun sempat menuturkan keheranannya terkait keberadaan insenerator dilokasi saat ini.
“Iya agak heran aja sih pak, ko bisa disini dibangun insnerator. Soalnya lokasi ini kan dataranya masih bisa dibilang agak rendah dari rumah warga disekitar. Apalagi tinggi cerobong cuma 15 Meter, dan rumah warga bapak lihat sendiri ada yang dua lantai dan tiga lantai, jadi tinggi cerobongnya sih menurut saya yang bener jadi soal,” terang U yang merupakan salahsatu petugas yang ditemui dilokasi insenerator pada Kamis (20/3/25).
Petugas yang biasa bertugas membakar sampah hasil pilah dengan total hingga 14 Ton dari dua (2) mesin insenerator itu pun menegaskan kepada media ini bahwasanya sempat mencoba memperhatikan timbulan asap yang keluar dari atas cerobong dari kejauhan dengan ketinggian yang tidak berbeda jauh dari ketinggian cerobong insenerator.
“Saya pernah pak coba ngecek asap yang keluar dari cerobong dari bangunan tinggi gitu pak yang ada disekitar jalan raya sana, dan memang asap walau putih, tanpa ada hitamnya ya pak, itu kayak hampir sejajar aja dengan lokasi yang tingginya ga jauh beda dengan tinggi cerobong insenerator itu. Iya mungkin itu alasan kemari warga demo dan protes kesini, protes asapnya mungkin pak,” kata dia.
Dari informasi yang berhasil digali dari para petugas pengoprasional insenerator dilokasi, terdapat beberapa keterangan diantaranya,
– Mesin insenerator dikatakan masih dalam asuransi.
– Terdapat 2 Mesin Insenerator dengan kapasitas maksimal pembakaran hingga 7 Ton/insenerator Total maksimal 14 Ton/Hari hasil pilah, dengan kegiatan oprasional mulai Pukul 08.00-16.00.
– Sampah yang dibakar telah melalui proses pemilahan oleh petugas.
– Proses pembakaran menggunakan Gas dan Listrik.
– Biaya oprasional untuk Token Listrik berkisar hingga 5Juta/Bulan, untuk Gas yang dihabiskan para petugas tidak dapat merinci pasti.
– Abu sisa dari pembakaran melalui insenerator masih hanya disimpan dan diduga belum memiliki kerjasama dengan vendor (pihak ketiga).
– Kesepuluh tenaga pembakar sampah sebelumnya tidak pernah disosialisasi dan diberi pelatihan prihal penggunaan insenerator, dan justeru hanya mengikuti instruksi secara langsung oleh pihak penyedia (kontraktor).
Minimnya pelatihan yang diberikan kepada para petugas dalam mengoprasikan insenerator, hingga proses pengelolaan Abu dari sisa hasil pembakaran diharapkan dapat segera menjadi perhatian dari pihak Dinas Lingkungan Hidup Kota Depok.
Persoalan sosialisasi terkait akan dibangun dan beroperasinya mesin insenerator dikatakan oleh pihak Kecamatan Sukmajay belum pernah menerima surat tembusan resmi, dan justeru sosialisasi yang digagas oleh pihak DLH dilakukan pasca bangunan insenerator telah dibangun.
“Secara surat resmi belum ada tembusan ke kecamatan. Waktu itu sosialisasi setelah sudah ada alat dilokasi tapi belum diuji coba. Dikumpulkan di kecamatan, hasilnya warga minta cerobong ditinggikan, ada hasil kajian efek alat tersebut,” terang Wijayana, Camat Sukmajaya melalui pesan whatsapp pribadinya.

