
TM Pringsewu — Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengolahan Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) resmi digelar baru-baru ini di Pekon Kutawaringin, Kecamatan Adiluwih, Kabupaten Pringsewu, Lampung. Program yang diinisiasi Pemerintah Provinsi Lampung bersama Pemerintah Kabupaten Pringsewu ini dirancang khusus untuk melatih masyarakat mengolah bahan pangan lokal menjadi menu lezat, bernutrisi tinggi, serta layak dan aman dikonsumsi jangka panjang. Kegiatan ini menjadi langkah strategis daerah untuk menjawab dua isu utama sekaligus: pemenuhan gizi masyarakat dan penguatan ekonomi berbasis potensi desa.
Acara Bimtek B2SA di Pekon Kutawaringin ini dihadiri oleh lintas pemangku kepentingan dari tingkat provinsi hingga desa, menunjukkan dukungan penuh terhadap penguatan ketahanan pangan daerah. Hadir dalam kesempatan tersebut perwakilan Pemerintah Provinsi Lampung Davit Kurniawan, beserta unsur dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Provinsi Lampung, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Lampung, Tenaga Ahli Gubernur Lampung, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Pringsewu, Koordinator Tenaga Pendamping Profesional (TPP) Kabupaten Pringsewu, Tim Pendamping Profesional (TPP) Kecamatan Adiluwih, Tenaga Pendamping Desa (TPD), Pendamping Lokal Desa (PLD), jajaran Pemerintah Kecamatan Adiluwih, perangkat Pekon Kutawaringin, serta kader Tim Penggerak PKK.
Secara garis besar, kegiatan pengolahan pangan lokal di Pringsewu ini memiliki tiga fokus utama yang saling berkaitan untuk kesejahteraan masyarakat. Pertama, mempercepat upaya pencegahan stunting melalui pemenuhan gizi seimbang bagi kelompok rentan seperti balita dan ibu hamil. Kedua, mengoptimalkan potensi sumber daya pangan yang melimpah di wilayah Adiluwih dan sekitarnya agar tidak terbuang sia-sia. Ketiga, mendorong pemberdayaan ekonomi keluarga dengan mengolah hasil bumi menjadi produk bernilai tambah, sehingga bisa menjadi peluang usaha baru yang menambah pendapatan rumah tangga.
Kepala Pekon Kotawaringin, Sutrisno, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan program pangan B2SA yang langsung menyentuh kebutuhan warganya. Menurutnya, pelatihan pengolahan pangan ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan tentang gizi sekaligus keterampilan berwirausaha. “Kehadiran program ini adalah bentuk perhatian nyata pemerintah terhadap kualitas gizi masyarakat serta kemajuan ekonomi keluarga di lingkungan kami. Kami sangat berharap kegiatan serupa dapat berlanjut secara berkelanjutan ke depannya,” ujar Sutrisno dalam sambutannya.
Program B2SA Lampung ini merupakan inisiatif langsung dari Gubernur Lampung Mirzani Zauzal bersama Bupati Pringsewu H. Riyanto Pamungkas, yang menaruh perhatian besar pada penurunan angka stunting dan pengembangan potensi desa. Dukungan penuh dari pimpinan daerah ini mencerminkan komitmen bersama untuk tidak hanya mengandalkan bahan pangan dari luar wilayah, melainkan mengoptimalkan kekayaan sumber daya alam yang tumbuh subur di setiap desa di seluruh Lampung. Kecamatan Adiluwih dipilih sebagai salah satu lokus prioritas mengingat besarnya potensi pertanian dan perkebunan yang belum dimaksimalkan pengolahannya.
Dalam paparan teknisnya, Davit Kurniawan selaku perwakilan Pemprov Lampung menjelaskan secara rinci prinsip-prinsip dasar pengolahan pangan B2SA yang harus diterapkan masyarakat. Materi yang disampaikan mencakup cara memilih bahan baku lokal yang berkualitas, teknik pengolahan yang tetap menjaga kandungan gizi, hingga tata cara penyajian dan penyimpanan yang aman agar pangan tidak mudah rusak dan terhindar dari kontaminasi. Davit juga menekankan bahwa pemanfaatan pangan lokal bukan hanya solusi pemenuhan gizi, melainkan langkah strategis mengurangi ketergantungan daerah terhadap pasokan pangan dari luar provinsi.
Kegiatan Bimtek pengolahan pangan berlangsung dengan antusiasme tinggi dari seluruh peserta, baik warga Pekon Kotawaringin maupun masyarakat dari desa sekitar yang turut hadir. Setelah mengikuti pelatihan ini, diharapkan peserta mampu langsung mengaplikasikan ilmu yang didapat ke dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari menyusun menu keluarga bergizi hingga mencoba mengembangkan produk pangan olahan untuk dijual. Target jangka panjangnya adalah terwujudnya masyarakat Pringsewu yang lebih sehat, bebas dari risiko stunting, serta memiliki kemandirian ekonomi yang kokoh berbasis kearifan lokal daerah.(Diki)

