
LEBAK — Suasana Kampung Pasir Ranca Jatake, RT 05 RW 09, Kelurahan Muara Ciujung Timur, Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, kini tidak hanya menjadi lokasi pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa Universitas Setia Budi Rangkasbitung. Di kawasan tersebut, para mahasiswa berupaya meninggalkan sesuatu yang dapat terus dimanfaatkan masyarakat setelah masa pengabdian mereka berakhir.
Salah satunya melalui program budidaya ikan lele. Sekitar 1.500 benih lele berukuran 4–4,5 sentimeter ditebar sebagai langkah awal pemanfaatan lahan sekaligus mendorong kegiatan produktif yang berpotensi dikembangkan menjadi sumber manfaat ekonomi bagi warga.
Pemilihan ikan lele bukan tanpa pertimbangan. Sebelum melakukan penebaran, mahasiswa terlebih dahulu melihat kondisi lingkungan dan karakteristik air di lokasi yang cenderung tenang.
“Jadi kita analisis bahwa airnya kan air diam. Salah satu ikan yang kuat di air seperti ini adalah lele. Kalau nila atau ikan mas bagusnya air berjalan. Makanya kita lele dulu sementara,” ujar perwakilan Universitas Setia Budi Rangkasbitung.
Jumlah benih yang ditebar pun masih terbuka untuk dikembangkan. Dari sekitar 1.500 ekor sebagai tahap awal, jumlahnya memungkinkan ditambah hingga sekitar 2.000 ekor atau lebih melalui koordinasi dengan berbagai pihak.
Namun, program tersebut tidak berhenti pada penebaran benih. Mahasiswa juga melihat persoalan lingkungan yang berada di sekitar lokasi, terutama potensi genangan saat hujan serta sampah yang dapat menghambat aliran air.
Karena itu, kegiatan budidaya ikan kemudian berjalan beriringan dengan upaya menjaga kebersihan lingkungan. Mahasiswa bersama masyarakat melakukan pembersihan saluran air dan mengurangi sampah yang berpotensi menyumbat aliran.
“Kalau hujan kawasan ini bisa banjir dan tentu bisa menjadi kumuh. Mudah-mudahan sampah-sampah yang bisa menghalangi kita ambil, sehingga bisa mengurangi persoalan itu,” katanya.
Bukan Sekadar Program KKN
Bagi Universitas Setia Budi Rangkasbitung, kegiatan tersebut tidak dirancang sebagai program yang selesai bersamaan dengan berakhirnya masa KKN.
Kampus justru mendorong agar program yang telah dimulai mahasiswa dapat dilanjutkan dan dikembangkan oleh masyarakat. Untuk itu, mahasiswa membangun kolaborasi dengan pengurus RT, RW, pemerintah kelurahan dan warga setempat.
“Kami dari kampus tidak mau hanya kegiatan itu berhenti sampai satu bulan kemudian selesai. Kami akan kawal terus. Kami kolaborasi dengan Pak RT, Pak RW, termasuk kelurahan,” ujarnya.
Konsep pemberdayaan juga tidak hanya bertumpu pada budidaya ikan. Mahasiswa mendorong pemanfaatan lahan dengan tanaman produktif seperti jahe, laja dan lengkuas.
Dengan demikian, program KKN diarahkan menjadi sebuah ekosistem kecil yang menggabungkan pemanfaatan lahan, pemberdayaan ekonomi dan kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami bukan hanya memberikan bibit ikan. Kami ingin ada keterpaduan di sini, terintegrasi,” tuturnya.
Menghidupkan Tri Dharma Perguruan Tinggi
Program pemberdayaan masyarakat di Ranca Jatake tersebut menjadi bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat.
Universitas Setia Budi Rangkasbitung menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya hadir melalui aktivitas akademik di lingkungan kampus. Pengetahuan dan sumber daya yang dimiliki perguruan tinggi juga harus mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Kalau kampus jauh dari masyarakat, tidak ada kemanfaatannya. Kami ingin berbuat,” katanya.
Pendekatan kolaboratif pun menjadi perhatian. Perguruan tinggi mendorong keterlibatan berbagai unsur melalui konsep pentahelix, yakni akademisi, pemerintah, masyarakat, komunitas dan media.
Keterlibatan warga menjadi faktor penting karena keberhasilan program tidak diukur dari berapa banyak kegiatan yang dilakukan mahasiswa selama KKN, melainkan dari apakah masyarakat mampu meneruskannya setelah mahasiswa kembali ke kampus.
“Kalau hanya mahasiswa, berarti kita gagal ketika masyarakat tidak bergerak. Maka kami melibatkan masyarakat,” tegasnya.
Dari Bersih-Bersih Lingkungan hingga Budidaya Lele
Sebelum penebaran benih lele, mahasiswa KKN Universitas Setia Budi Rangkasbitung juga telah menjalankan sejumlah kegiatan lingkungan di kawasan tersebut.
Mulai dari membersihkan saluran air hingga mengajak masyarakat melakukan gerakan pungut sampah. Rangkaian kegiatan itu kemudian dikembangkan dengan program pemanfaatan lahan dan budidaya ikan.
Bagi mahasiswa, langkah tersebut merupakan bentuk inovasi sederhana dengan memanfaatkan potensi yang sudah tersedia di lingkungan masyarakat.
“Ini sebenarnya inovasi sederhana, memanfaatkan apa yang ada. Bukan hanya satu item, bibit ikan salah satunya. Kami ingin ada keberlanjutan,” ujarnya.
Kini, 1.500 benih lele yang telah ditebar menjadi awal dari sebuah program yang diharapkan tidak berhenti sebagai catatan kegiatan KKN.
Di tangan masyarakat, budidaya tersebut diharapkan dapat terus dirawat, dikembangkan dan apabila memungkinkan menjadi kegiatan produktif yang memberikan manfaat ekonomi.
Lebih jauh, program ini diharapkan menjadi contoh bahwa pengabdian perguruan tinggi tidak harus selalu diwujudkan melalui kegiatan besar dan seremonial. Dari sebuah kolam, bibit ikan, tanaman produktif dan saluran air yang dibersihkan, dapat lahir sebuah gerakan pemberdayaan apabila dilakukan secara bersama dan berkelanjutan.
Dengan semangat tersebut, Universitas Setia Budi Rangkasbitung berharap masyarakat RT 05 RW 09 Kampung Pasir Ranca Jatake dapat menjadi aktor utama yang melanjutkan seluruh program setelah mahasiswa KKN meninggalkan lokasi.
Reporter (Rusli)
Editor:Benny

