Namun, dampak lainnya juga amat dahsyat. Antara lain dalam perkembangan dunia finansial. Diawali dalam rangka reposisi kalangan MNC (multi-national corporation) menghadapi persaingan global. Yakni, pada awal tahun 80-an, kalangan MNC bermula berpangkalan di AS dalam rangka meningkatkan kapasitas permodalan. Mereka memanfaatkan dana-dana menganggur semisal yang berada di lembaga-lembaga dana pensiun dan asuransi. Juga memburu dana murah di pasar modal atau bermain valas dalam pasar uang.
Cara ini lantas menjalar ke negara-negar industri lainnya di Eropa dan Jepang. Lantas ke negara-negara industri baru: Singapura dan Hong Kong, hingga menginggapi semua negara dan menjalar ke semua level perusahaan (besar, menengah, bahkan kecil) yang praktis di akhir tahun 80-an dan 90-an terjadi peningkatan arus moneter yang sangat luar biasa dahsyatnya, tanpa diimbangi oleh peningkatan arus barang dan jasa yang setara.
Pakar manajemen tingkat dunia Peter Drucker menyebut gejala ketidakseimbangan arus moneter dengan arus barang dan jasa tersebut sebagai adanya decoupling. Yakni, fenomena keterputusan antara maraknya arus uang yang tak diimbangi dengan arus barang dan jasa. Bersamaan dengan fenomena tersebut, marak pula kegiatan ekonomi dan bisnis spekulatif (terutama di dunia pasar modal, pasar valas dan properti), sehingga dunia terjangkit penyakit ’ekonomi gelembung’ (bubble economy). Sebuah ekonomi yang besar dalam perhitungan kuantitas moneternya, tetapi tak diimbangi oleh sektor riil, bahkan sektor riil tersebut amat jauh ketinggalan perkembangannya.
Sekadar ilustrasi dari fenomena decoupling itu, misalnya sebelum krisis Asia, dalam satu hari dana yang gentayangan di pasar modal dan pasar uang dunia diperkirakan rata-rata beredar sekitar US$2 triliun-US$3 triliun atau dalam satu tahun sekitar US$700 triliun. Padahal, arus perdagangan barang secara internasional dalam satu tahun hanya berkisar US$7 triliun. Jadi, perbandingannya berarti arus uang sekitar 100 kali lebih cepat daripada arus barang.
Sejak itu pula, fungsi uang bukan lagi sekadar menjadi alat tukar dan penyimpanan kekayaan, tapi telah menjadi komoditas yang diperjualbelikan dan sangat menguntungkan bagi mereka yang memperoleh gain. Sebaliknya, mereka yang merugi dalam satu titik waktu transaksi bisa mengalami kerugian miliaran dolar AS (triliunan rupiah).