Selanjutnya, terutama sejak krisis Asia tengah 1997, persepsi tentang utang luar negeri berubah arti secara signifikan. Yakni, karena fenomena atas peran fund managers semacam Soros dkk, global and national bubble economy, bad governance, dan hegemoni negara industri yang telah menciptakan ketidakadilan global. Maka, persepsi tentang utang luar negeri baik bilateral, multilateral (terutama peran IMF dan World Bank), utang swasta (peran utang jangka pendek dan portfolio investment) telah dipersepsikan sangat merugikan NSB, bahkan sebagai bentuk baru kolonialisme dan imperialisme.
Yang masih dianggap positif tampaknya ialah modal asing dalam bentuk FDI (foreign direct investment) yang relatif bagi negara-negara penerima investasi masih lebih banyak manfaatnya, baik dalam bentuk penciptaan kesempatan kerja, penyerapan teknologi, manajemen, pengetahuan, dan pengalaman, tanpa terlalu banyak campur tangan asing dalam pengelolaan problem domestik negara penerima modal.
Iran pasca-Syah Iran adalah negara yang jumlahnya nol dalam utang pemerintahnya, dan hanya memanfaatkan kerangka FDI. Juga fenomena keberhasilan yang spektakuler dari Malaysia dalam menghadapi krisis Asia untuk pemulihan dan kebangkitan ekonominya tanpa bantuan IMF. Bahkan, nama Mahatir Mohamad telah terpatrikan di dunia, yang dianggap menjadi pelopor untuk menentang hegemoni negara maju serta sering kali melontarkan pentingnya Asian monetary fund dan bahkan pelopor untuk membangun ’arsitektur baru keuangan dunia’, yang menganggap arsitektur lama hanya menguntungkan kepentingan negara-negara maju.